Belajar Ilmu Ekonomi

Ikon

Memahami Untuk Memperbaiki

Pengangguran dan Penawaran Agregat

Seringkali kita mendengar keluhan orang mengenai betapa sulitnya mencari pekerjaan. Pada sebagian kasus, orang tidak dapat menemukan pekerjaan selama bertahun-tahun. Orang-orang yang berusaha mencari pekerjaan namun belum menemukannya disebut sebagai penganggur.

Karena tidak memiliki pekerjaan, penganggur ini tidak memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan hidup mereka tidak bisa terus ditanggung oleh orang tuanya karena produktivitas dan penghasilan orang tua mereka akan semakin menurun seiring bertambahnya usia. Ketika pendapatan generasi tua dalam keluarga menurun sementara generasi muda belum memperoleh pekerjaan, konsumsi per kapita keluarga akan menurun. Jika konsumsi per kapita ini turun hingga di bawah standar pemenuhan kebutuhan dasar, keluarga tersebut menjadi anggota baru kelompok miskin.

Pengangguran juga tidak disukai dalam Islam karena terdapat penyiaan sumber daya. Berbeda dengan sumber daya fisik yang dapat disimpan jika tidak digunakan, setiap masa kehidupan akan hilang dengan berlalunya waktu baik dimanfaatkan atau tidak. Alloh SWT menyatakan bahwa manusia akan berada dalam kerugian kecuali jika menggunakan waktunya untuk iman, amal kebajikan, dan saling menasihati (Al-Ashr: 1-3).

Pengangguran terjadi karena lowongan kerja lebih sedikit daripada jumlah pencari kerja. Mengapa gap tersebut ada? Untuk menjawabnya, kita perlu menyelidiki faktor yang mempengaruhi jumlah lowongan kerja dan jumlah pencari kerja.

Jumlah lowongan kerja mencerminkan permintaan tenaga kerja. Permintaan tenaga kerja merupakan permintaan turunan dari jumlah dan harga output. Perusahaan memaksimumkan profit dengan cara merekrut pekerja hingga produktivitas marjinal pekerja sama dengan upah riilnya.

Jumlah pencari kerja merupakan penawaran tenaga kerja. Ekonomi konvensional menggunakan pendekatan optimasi utilitas dalam menurunkan penawaran tenaga kerja. Pekerja dianggap memiliki pilihan berapa jam kerja yang ia tawarkan. Pekerja menghadapi trade off antara utilitas yang diperoleh dari waktu luang (leisure time) jika ia tidak bekerja dan utilitas dari barang dan jasa yang dapat dikonsumsi jika ia memperoleh penghasilan dengan bekerja.

image

Gambar 1: Fondasi mikro penawaran tenaga kerja

Fondasi mikro ekonomi konvensional dalam menerangkan penawaran tenaga kerja sebagaimana di atas tidak sesuai dengan kenyataan. Pencari kerja biasanya tidak dapat memilih berapa jam kerja yang ia tawarkan. Pencari kerja hanya memiliki pilihan jenis pekerjaan dan tempat ia bekerja. Penawaran jam kerja sangat inelastik.

Secara agregat sekalipun, penawaran tenaga kerja biasanya bersifat inelastik. Sebagian besar masyarakat tidak memiliki alternatif pencaharian selain bekerja. Karena itu, turunnya upah secara umum hanya akan sedikit mengurangi penawaran tenaga kerja.

Walau pekerja kurang memiliki pilihan untuk tidak bekerja dan jam kerja yang ditawarkan, pekerja masih dapat memilih jenis dan tempat bekerja yang memaksimumkan pendapatannya. Karena itu, penawaran tenaga kerja yang dihadapi perusahaan secara individu maupun pada suatu sektor masih dapat bersifat elastik, namun tidak pada skala makro dan individu pekerja.

Permasalahan pengangguran berada pada skala makro, oleh karenanya analisis awal perlu dilakukan pada skala ini. Pengangguran terjadi pada saat jumlah tenaga kerja yang diminta kurang dari jumlah penawarannya.  Situasi ini terjadi pada saat upah riil aktual lebih tinggi dari upah riil yang dapat menyeimbangkan permintaan dan penawaran tenaga kerja.

Jika upah riil yang terlalu tinggi merupakan penyebab pengangguran, mengapa ia tidak dapat turun ke upah riil keseimbangan? Jika para penganggur mau mendapatkan upah yang lebih rendah asal mendapat pekerjaan, upah riil seharusnya dapat turun. Perusahaan akan mau merekrut lebih banyak pekerja jika upah riil turun sehingga pengangguran berkurang. Penurunan upah riil akan terus terjadi hingga tidak ada lagi pengangguran.

Ekonom klasik menganggap bahwa mekanisme kliring pasar bekerja sehingga pengangguran akan selalu nol dalam jangka panjang. Pengangguran dalam perekonomian terjadi karena perlunya waktu transisi hingga terjadi pertemuan antara pencari kerja dan perusahaan yang membutuhkannya. Pengangguran juga terjadi secara sukarela karena pencari kerja mencari pekerjaan yang memberikan upah lebih besar.

Fenomena pengangguran persisten membantah teori klasik. Ekonom Keynesian berpendapat bahwa pengangguran terpaksa dapat eksis dalam ekonomi. Mereka berpendapat bahwa upah nominal sulit untuk turun (sticky wage).

Keynesian muncul sebagai mazhab alternatif dalam ilmu ekonomi sejak terjadinya Depresi Besar di dunia pada tahun 1930-an. Situasi perekonomian saat itu memiliki banyak pengangguran sementara harga-harga mengalami penurunan (deflasi).

Ekonom sebelum Keynesian, biasa disebut sebagai mazhab Klasik, berpendapat bahwa situasi depresi tidak akan berlangsung lama karena perekonomian akan segera menuju keseimbangan baru di mana terjadi kesempatan kerja penuh (full employment).  Menurut mereka, tingkat output ditentukan oleh teknologi produksi dan tingkat input keseimbangan hasil interaksi permintaan dan penawaran pasar input. Pasar input senantiasa mencapai keseimbangan karena tingkat upah akan segera berubah jika terjadi kelebihan permintaan atau penawaran. Pada kasus input tenaga kerja, permintaan dan penawaran input dipengaruhi oleh tingkat upah riil, yakni upah nominal relatif terhadap harga-harga barang dan jasa.

Ekonom klasik hanya dapat menjelaskan bahwa penyebab deflasi pada Depresi Besar adalah penurunan permintaan agregat. Namun mereka gagal menjawab mengapa penurunan permintaan agregat dapat juga menimbulkan ledakan pengangguran.

image

Gambar 2: Penjelasan Klasik.

Penjelasan standar ekonom Klasik dapat dilihat pada gambar 3 di atas. Penurunan permintaan agregat dari AD1 ke AD2 akan menyebabkan penurunan harga-harga barang dan jasa (deflasi). Penurunan harga meningkatkan upah riil dari w1/P1 ke w1/P2 yang mengakibatkan pengangguran. Akan tetapi, kenaikan upah riil dan pengangguran itu hanya berlangsung sementara karena para penganggur akan bersedia menerima upah nominal yang lebih rendah. Karenanya, upah riil akan kembali turun hingga mencapai tingkat keseimbangan semula namun dengan upah nominal dan tingkat harga yang lebih rendah (w2/P2). Secara keseluruhan, harga output dan input akan mengalami penurunan secara proporsional namun tingkat input dan output keseimbangan tidak mengalami perubahan.

Walau masuk akal, penjelasan tersebut tertolak oleh fakta depresi yang tidak kunjung usai. Penjelasan yang lebih konsisten dengan fakta muncul dari Keynes.

Keynes dapat menjelaskan fakta pengangguran karena ia memiliki asumsi yang berbeda dari ekonom Klasik mengenai tingkat upah. Keynes mengasumsikan bahwa tingkat upah nominal tidak mudah berubah (sticky wage), sementara ekonom Klasik menganggap tingkat upah nominal fleksibel.

image

Gambar 3: Penjelasan Keynesian.

Sama seperti ekonom Klasik, Keynesian juga menjelaskan bahwa penurunan permintaan agregat meningkatkan upah riil dari w1/P1 ke w1/P2. Bedanya, Keynesian melihat bahwa pengangguran telah ada sejak awal  (U1) namun meningkat ketika terjadi kenaikan upah riil (U2). Selain itu, asumsi sticky wage berkonsekuensi upah riil tidak dapat turun untuk menyeimbangkan permintaan dan penawaran tenaga kerja. Karena itu, pengangguran tidak akan bisa hilang dengan sendirinya. Secara keseluruhan, Keynesian berpendapat bahwa penurunan permintaan agregat menyebabkan penurunan harga output dan penambahan pengangguran secara persisten.

Filed under: Makroekonomika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengantar

Blog ini berisikan materi yang dibawakan oleh penulis dalam perkuliahan ekonomi syariah di Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga. Hak milik materi di tangan penulis. Materi bebas digunakan selama tidak melakukan plagiat. Pengutipan secara langsung maupun tidak langsung harap menggunakan kaidah ilmiah baku. Pertanyaan, koreksi, dan saran diharapkan agar penulis dapat terus memperbaiki materi ini.

Laman

RSS Komentar Ekonomi

  • Balapan Terjun vs Balapan Terbang
    Balapan terjun, mungkin itu yang cocok menggambarkan persaingan antar perusahaan, daerah atau negara untuk menang persaingan dengan cara bersaing membayar murah tenaga kerja dan memungut pajak serendah-rendahnya. Namun kita tahu bahwa perusahaan besar bukanlah perusahaan yang membayar tenaga kerjanya paling murah, negara maju bukanlah negara yang memungut pa […]
  • Kajian Ekonomi Murabahah Emas
    Fatwa DSN MUI no. 77 tahun 2010 tentang Murabahah Emas mengundang pertanyaan dan kajian. Untuk kajian fiqh, bisa didapatkan dari Abdul Wasik, Mas Habib dan Faishol. Sementara untuk kajian ekonomi, saya baru mendapatkannya dari Ali Sakti. Pada artikel ini, saya akan lebih banyak membahas dari sisi ekonomi yang sesuai dengan latar belakang keilmuan saya. Ali S […]
  • Ekonomika Riba Fadl
     Sumber hukum riba fadl adalah hadits Nabi Muhammad saw. berikut: “(Jual beli) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya'ir dengan sya'ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (dengan syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai.” (riwayat Musl […]
  • Agar Bank Syariah Kebal Risiko Bunga
    Apa hubungannya bank syariah dengan risiko bunga? Bukankah bank syariah tidak menerima dan membayar bunga? Memang bank syariah tidak menerima dan membayarkan bunga, tapi mereka masih harus bersaing dengan bank riba yang memungut dan membayarkan bunga. Ketika bunga bank berubah, bank syariah ikut menerima dampak di sisi pendanaan atau pembiayaan. Hal ini sebe […]
  • Subsidi BBM? No! Subsidi Pangan? Yes!
    Jika anda jadi presiden dan punya alokasi anggaran untuk orang miskin 100 trilliun, dalam bentuk program apa anggaran tersebut akan anda salurkan?A. subsidi pendidikanB. subsidi panganC. bantuan langsung tunaiD. subsidi BBME. lainnya, sebutkan ...Jika anda memilih opsi D, saya tidak akan mungkin memilih anda jika anda mencalonkan diri jadi presiden. Sudah um […]
  • Paradoks Pembiayaan Syariah Berbasis Qardh
    Mayoritas tabungan di bank syariah menggunakan akad mudharabah yang merupakan akad kemitraan dalam investasi. Sebagai investasi, tentu nasabah mengharap agar bank menyalurkan dana mereka ke berbagai jenis bisnis yang menghasilkan keuntungan, bukan untuk aktivitas sosial. Keperluan sosial dipenuhi dari alokasi dana terpisah, seperti zakat dan sadaqah. Lain ha […]
  • The Failure of Deposit Insurance and Government Bail out
    Although bank deposits are short term debt contracts, banks lend the deposit funds as long term debts. To serve regular deposit withdrawal, banks allocate some percentages of the funds in forms of cash as a reserve. In normal situation, there is no problem with this method because the withdrawn funds will soon be replaced by other customers' deposits. H […]
  • Keuangan Islam, Kembalilah ke Jati Dirimu!
    Hingga saat ini, sebagian besar kreasi produk keuangan Islam di Indonesia diinisiasi oleh pelaku industri keuangan Islam. Terang saja, motif pelaku ini adalah memenangkan persaingan antara mereka dengan keuangan konvensional. Persaingan antara pelaku industri keuangan terjadi pada aspek harga dan diversifikasi layanan. Permintaan fatwa produk keuangan baru d […]
  • Roubini: The Gold Bubble and the Gold Bugs
    Profesor ekonomi dari New York University pun bicara tentang bubble emas.The Gold Bubble and the Gold BugsNEW YORK – Gold prices have been rising sharply, breaching the $1,000 barrier and in recent weeks rising towards $1,200 an ounce and above. Today’s “gold bugs” argue that the price could top $2,000. But the recent price surge looks suspiciously like a bu […]
  • Harga Emas Naik, Siapa Untung?
    Orang yang punya emas? Dia hanya untung jika menjual emasnya. Akan tetapi pada saat yang sama, dia kehilangan peluang untung dari kenaikan harga berikutnya. Tapi jika dia tidak menjual emasnya, apa gunanya kenaikan harga emas baginya?Apakah orang yang beli emas saat harga naik? Tentu saja bukan, tidak ada orang yang dikatakan untung ketika membeli di saat ha […]
%d blogger menyukai ini: