Belajar Ilmu Ekonomi

Ikon

Memahami Untuk Memperbaiki

Kebijakan Moneter di Berbagai Sistem Perbankan

Fractional Reserve Banking

Dalam sistem fractional reserve banking, bank menciptakan uang baru berupa demand deposit. Uang kas dari nasabah dipinjamkan kepada debitur untuk keperluan produktif maupun konsumtif. Nasabah sendiri masih dapat bertransaksi menggunakan cek atau kartu debit seakan-akan uang kas itu masih di tangan mereka.

Penjual produk yang dibeli nasabah dengan cek atau kartu debit dapat menukarkan cek atau klaim transaksi kartu debit mereka dengan uang kas ke bank penerbit cek/kartu debit. Bagi bank, pencairan oleh penjual ini sama saja dengan penarikan rekening oleh nasabah bersangkutan. Akan lebih mudah bagi bank jika penjual ini juga memiliki rekening di bank tersebut, sehingga pencairan cek/klaim kartu debit cukup dilakukan dengan memindahkan saldo dari rekening nasabah ke rekening penjual. Cadangan uang kas dalam bank tidak berkurang.

Untuk sementara kita asumsikan tidak ada campur tangan negara dalam perekonomian. Bagaimana bank menentukan suku bunga simpanan dan pinjaman mereka? Di pasar simpanan, bank berlaku sebagai pembeli dana dan individu rumah tangga dan perusahaan yang memiliki kelebihan dana sebagai penjual.

Bank menghadapi permintaan kredit dari rumah tangga dan perusahaan. Total simpanan nasabah di seluruh bank bergantung pada tabungan otonom dan responnya yang berhubungan positif dengan suku bunga simpanan. Interaksi permintaan dan penawaran dana akan membentuk tingkat keseimbangan bunga kredit.

Berdasarkan asumsi persaingan sempurna, semua bank dan peminjam akan menghadapi tingkat bunga yang sama dan tidak dapat menentukan tingkat bunga yang berbeda dengan  tingkat keseimbangan itu. Bank yang meminta bunga kredit di atas tingkat keseimbangan tidak akan memperoleh debitur.

Jika persaingan sempurna ini terjadi pula di pasar simpanan, seluruh bank dan depositor akan menghadapi tingkat keseimbangan bunga simpanan yang sama. Bunga simpanan ini akan lebih kecil daripada bunga pinjaman. Selisih (spread) bunga simpanan dari bunga pinjaman merupakan sumber penerimaan bank untuk menutupi biaya-biaya mereka.

Jumlah dana simpanan berhubungan positif dengan pendapatan depositor dan suku bunga simpanan. Jumlah nilai pinjaman yang diminta berhubungan terbalik dengan tingkat bunga. Karena pinjaman digunakan untuk membiayai konsumsi dan investasi, penambahan pinjaman akan menyebabkan permintaan agregat meningkat. Pendapatan nasional akan meningkat, namun dengan biaya inflasi.

Jika pinjaman disalurkan untuk investasi, inflasi ini akan berlangsung sementara karena produksi agregat akan meningkat di masa mendatang hasil dari investasi tersebut. Jika pinjaman disalurkan untuk konsumsi, produksi juga memiliki kemungkinan meningkat di masa mendatang jika produsen barang konsumsi mendapatkan insentif untuk melakukan investasi demi memenuhi kenaikan permintaan.

Akan tetapi, pinjaman atau utang hanyalah merupakan transfer belanja dari masa depan ke masa kini. Penambahan konsumsi dan investasi di masa kini yang dibiayai oleh utang berkonsekuensi penurunan konsumsi dan investasi tersebut di masa depan, karena sebagian pendapatan di masa depan harus digunakan untuk membayar kembali utang tersebut. Dengan demikian, ekspansi ekonomi yang bersumber dari pinjaman di masa kini sebenarnya dibiayai oleh kontraksi ekonomi di masa depan.

Investasi lebih dini yang didorong oleh ekspansi ekonomi masa kini diharapkan mampu meningkatkan produksi di masa depan lebih dari sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembalikan pinjaman berikut bunganya. Kesahihan klaim ini masih perlu diuji terhadap kenyataan.

Keberatan kedua terhadap ekspansi yang dibiayai oleh penggandaan uang adalah bahwa ekspansi tersebut tidak akan bertahan lama. Inflasi yang memberikan insentif investasi akan memberikan dampak lanjutan (second-round effect) berupa kenaikan upah ketika pekerja mulai menuntuk penyesuaian upah agar pendapatan riilnya tidak turun. Pertumbuhan ekonomi dan perekrutan pekerja hanya semu karena penurunan upah riil. Ketika upah dinaikkan, produksi akan kembali berkurang dan mengembalikan pendapatan nasional ke tingkat semula, namun pada tingkat harga yang lebih tinggi lagi.

Jika pinjaman digunakan untuk selain aktivitas riil konsumsi atau investasi, misalnya untuk spekulasi, peningkatan harga terjadi pada komoditas atau aset yang dijadikan sasaran spekulasi. Dampak selanjutnya adalah peningkatan produksi komoditas atau aset tersebut, dan karenanya semakin banyak pekerja direkrut.

Akan tetapi, peningkatan pembelian sebelumnya tidaklah berasal dari peningkatan konsumsi, melainkan dari peningkatan persediaan. Spekulan tidaklah mengkonsumsi komoditas atau aset yang dibelinya, namun hanya menyimpannya dengan harapan dapat menjual dengan harga lebih tinggi di masa depan.

Ketika pembelian spekulatif menurun, peningkatan produksi hanya mempercepat pertumbuhan stok komoditas atau aset tersebut. Berlimpahnya stok memaksa produsen untuk menurunkan harga agar stok tersebut dapat cepat terjual. Produsen pun mulai mengurangi kapasitas produksi, termasuk memberhentikan sebagian pekerjanya. Penurunan harga menjadi sinyal bagi spekulan untuk segera menjual stok komoditas atau aset miliknya. Hal itu mengakselerasi penurunan harga stok komoditas atau aset tersebut.

Dalam skala agregat, penggunaan pinjaman untuk spekulasi tersebut menjadi sebab dari siklus boom dan resesi. Ketika harga komoditas atau aset sedang meningkat (bullish), peningkatan produksi komoditas atau aset tersebut mendorong pertumbuhan pendapatan nasional dan penyerapan lapangan kerja. Sebaliknya, ketika harga komoditas atau aset sedang menurun (bearish), penurunan produksi mengurangi pertumbuhan pendapatan dan lapangan kerja.

Risiko gagal bayar dalam sistem perbankan cadangan sebagian terletak pada dipinjamkannya kembali dana nasabah, sehingga terdapat kemungkinan bank tidak mampu mengembalikan uang nasabah karena sisa uang yang tidak dipinjamkan, yakni cadangan, kurang dari dana yang hendak ditarik.

Otoritas moneter menghadapi penawaran uang yang tidak dapat lagi mereka kendalikan sepenuhnya. Otoritas moneter hanya berkuasa penuh pada uang kas yang mereka terbitkan. Akan tetapi, otoritas moneter tidak memilki kekuasaan untuk mengatur uang yang diciptakan dari peminjaman kembali simpanan nasabah.

Penciptaan uang itu bergantung pada siklus bisnis dan suku bunga yang berlaku.

Karena itu otoritas moneter memerlukan ??fasilitas moneter??, yakni sarana untuk mengelola jumlah uang beredar-JUB (money in circulation) di masyarakat. Otoritas moneter memiliki pilihan-pilihan berikut sebagai fasilitas moneter:

  1. cadangan wajib (reserve requirement). Otoritas moneter mewajibkan bank untuk menyimpan sebagian dana simpanan ke rekening bank sentral. Simpanan bank di bank sentral ini disebut sebagai cadangan (reserve). Bank sentral biasanya—namun tidak selalu—memberi bunga terhadap cadangan ini. Di Indonesia, ketentuan cadangan wajib ini diistilahkan dengan giro wajib minimum (GWM). Terakhir, BI tidak memberikan bunga terhadap GWM.
  2. kebijakan diskonto (discount policy).
  3. operasi pasar terbuka-OPT (open market operation)
  4. anjuran (suassion)

Full Reserve Banking

Dalam sistem ini, dana nasabah dari demand deposit tidak boleh dipinjamkan kepada orang lain. Untuk memastikan bank tidak melakukan peminjaman, seluruh dana demand deposit wajib disimpan di rekening bank sentral sebagai cadangan (reserve).

Sejarah bank pada awalnya mirip dengan full reserve banking ini. Pada …. , emas masih digunakan secara luas menjadi alat tukar. Saat itu ada orang yang berlaku sebagaimana bank saat ini dengan menyediakan jasa penyimpanan emas. Bank saat itu tidak meminjamkan emas titipan ke orang lain. Sebagai bukti bahwa seseorang menitipkan emasnya, bank tersebut mengeluarkan catatan (bank notes). Pemilik emas dapat mempergunakan bank notes ini sebagai alat pembayaran.

Dalam sistem perbankan cadangan penuh ini, bank akan selalu mampu membayar kewajibannya kepada nasabah penyimpan.

Dalam sistem perbankan cadangan penuh, jumlah uang beredar sama dengan jumlah uang kartal yang diterbitkan otoritas moneter. Uang kartal yang dipegang masyarakat hanya dapat berkurang ketika disimpan ke dalam bank. Akan tetapi, masyarakat masih mampu menarik simpanan di bank ini setiap saat dan menggunakan saldo simpanan itu untuk melakukan pembayaran dengan cek atau kartu debit. Dengan demikian, simpanan di bank itu memiliki fungsi yang sama dengan uang kartal, sehingga biasa disebut uang giral.

R = D

B = C + R = C + D

Selama otoritas moneter tidak menerbitkan uang baru (dB = 0), pengurangan uang kartal yang beredar akan sama besar dengan penambahan uang giral yang digunakan masyarakat (dC = – dD).

Dalam sistem ini, otoritas moneter tidak mengalami fluktuasi uang beredar yang disebabkan siklus bisnis. Permintaan agregat berada pada tingkat yang seharusnya dalam situasi ekonomi yang berlaku. Konsumsi ditentukan oleh kecenderungan konsumsi yang dipengaruhi oleh  pendapatan nasional. Pendapatan dipengaruhi oleh stok modal yang dibentuk dari akumulasi investasi. Investasi sendiri juga dipengaruhi oleh ekspektasi laba yang dipengaruhi oleh kecenderungan konsumsi masyarakat.

Filed under: Makroekonomika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengantar

Blog ini berisikan materi yang dibawakan oleh penulis dalam perkuliahan ekonomi syariah di Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga. Hak milik materi di tangan penulis. Materi bebas digunakan selama tidak melakukan plagiat. Pengutipan secara langsung maupun tidak langsung harap menggunakan kaidah ilmiah baku. Pertanyaan, koreksi, dan saran diharapkan agar penulis dapat terus memperbaiki materi ini.

Laman

RSS Komentar Ekonomi

  • Balapan Terjun vs Balapan Terbang
    Balapan terjun, mungkin itu yang cocok menggambarkan persaingan antar perusahaan, daerah atau negara untuk menang persaingan dengan cara bersaing membayar murah tenaga kerja dan memungut pajak serendah-rendahnya. Namun kita tahu bahwa perusahaan besar bukanlah perusahaan yang membayar tenaga kerjanya paling murah, negara maju bukanlah negara yang memungut pa […]
  • Kajian Ekonomi Murabahah Emas
    Fatwa DSN MUI no. 77 tahun 2010 tentang Murabahah Emas mengundang pertanyaan dan kajian. Untuk kajian fiqh, bisa didapatkan dari Abdul Wasik, Mas Habib dan Faishol. Sementara untuk kajian ekonomi, saya baru mendapatkannya dari Ali Sakti. Pada artikel ini, saya akan lebih banyak membahas dari sisi ekonomi yang sesuai dengan latar belakang keilmuan saya. Ali S […]
  • Ekonomika Riba Fadl
     Sumber hukum riba fadl adalah hadits Nabi Muhammad saw. berikut: “(Jual beli) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya'ir dengan sya'ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (dengan syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai.” (riwayat Musl […]
  • Agar Bank Syariah Kebal Risiko Bunga
    Apa hubungannya bank syariah dengan risiko bunga? Bukankah bank syariah tidak menerima dan membayar bunga? Memang bank syariah tidak menerima dan membayarkan bunga, tapi mereka masih harus bersaing dengan bank riba yang memungut dan membayarkan bunga. Ketika bunga bank berubah, bank syariah ikut menerima dampak di sisi pendanaan atau pembiayaan. Hal ini sebe […]
  • Subsidi BBM? No! Subsidi Pangan? Yes!
    Jika anda jadi presiden dan punya alokasi anggaran untuk orang miskin 100 trilliun, dalam bentuk program apa anggaran tersebut akan anda salurkan?A. subsidi pendidikanB. subsidi panganC. bantuan langsung tunaiD. subsidi BBME. lainnya, sebutkan ...Jika anda memilih opsi D, saya tidak akan mungkin memilih anda jika anda mencalonkan diri jadi presiden. Sudah um […]
  • Paradoks Pembiayaan Syariah Berbasis Qardh
    Mayoritas tabungan di bank syariah menggunakan akad mudharabah yang merupakan akad kemitraan dalam investasi. Sebagai investasi, tentu nasabah mengharap agar bank menyalurkan dana mereka ke berbagai jenis bisnis yang menghasilkan keuntungan, bukan untuk aktivitas sosial. Keperluan sosial dipenuhi dari alokasi dana terpisah, seperti zakat dan sadaqah. Lain ha […]
  • The Failure of Deposit Insurance and Government Bail out
    Although bank deposits are short term debt contracts, banks lend the deposit funds as long term debts. To serve regular deposit withdrawal, banks allocate some percentages of the funds in forms of cash as a reserve. In normal situation, there is no problem with this method because the withdrawn funds will soon be replaced by other customers' deposits. H […]
  • Keuangan Islam, Kembalilah ke Jati Dirimu!
    Hingga saat ini, sebagian besar kreasi produk keuangan Islam di Indonesia diinisiasi oleh pelaku industri keuangan Islam. Terang saja, motif pelaku ini adalah memenangkan persaingan antara mereka dengan keuangan konvensional. Persaingan antara pelaku industri keuangan terjadi pada aspek harga dan diversifikasi layanan. Permintaan fatwa produk keuangan baru d […]
  • Roubini: The Gold Bubble and the Gold Bugs
    Profesor ekonomi dari New York University pun bicara tentang bubble emas.The Gold Bubble and the Gold BugsNEW YORK – Gold prices have been rising sharply, breaching the $1,000 barrier and in recent weeks rising towards $1,200 an ounce and above. Today’s “gold bugs” argue that the price could top $2,000. But the recent price surge looks suspiciously like a bu […]
  • Harga Emas Naik, Siapa Untung?
    Orang yang punya emas? Dia hanya untung jika menjual emasnya. Akan tetapi pada saat yang sama, dia kehilangan peluang untung dari kenaikan harga berikutnya. Tapi jika dia tidak menjual emasnya, apa gunanya kenaikan harga emas baginya?Apakah orang yang beli emas saat harga naik? Tentu saja bukan, tidak ada orang yang dikatakan untung ketika membeli di saat ha […]
%d blogger menyukai ini: