Belajar Ilmu Ekonomi

Ikon

Memahami Untuk Memperbaiki

Struktur Pasar

Dalam keseharian, kita menemui berbagai macam pasar. Hampir seluruh interaksi manusia bisa dipandang dengan kacamata interaksi permintaan dan penawaran. Para siswa yang belum pernah bekerja atau memiliki bisnis akan lebih sering berada di posisi pembeli daripada penjual.

Makanan sehari-hari didapatkan melalui pasar makanan, di mana warung-warung sebagai penjual berinteraksi dengan para pembelinya. Kamar-kamar kost ditawarkan oleh para pemilik melalui pasar kamar kost kepada siswa dan pekerja perantau. Pendidikan pun disediakan melalui mekanisme pasar di mana manajemen sekolah sebagai penjual dan siswa beserta orang tuanya sebagai pembeli.

Akan tetapi, tidak semua pasar menunjukkan perilaku sama. Jika kita menanyakan harga bahan makanan–beras, bawang, cabe, dll– kepada beberapa penjual di suatu pasar tradisional, maka kita akan mendapati harga yang persis sama antara penjual satu dengan lainnya. Namun pada kasus layanan telekomunikasi nirkabel, kita mendapati perbedaan tarif layanan di antara kartu, walaupun perusahaan yang mengeluarkan kartu tersebut sama, seperti kartu Simpati dan kartu As yang sama-sama dimiliki Telkomsel.

Perbedaan perilaku di antara satu pasar dengan lainnya ditimbulkan oleh struktur pasar tersebut. Struktur pasar dipengaruhi oleh jumlah penjual dan pembeli, karakteristik produk, teknologi, biaya produksi, dan ketersediaan informasi.

Dalam ilmu ekonomi, dikenal beberapa standar struktur pasar yang dapat diurutkan menurut kekuasaan yang dimiliki pelaku pasar. Struktur pasar di mana pelaku pasar tidak memiliki kekuatan adalah pasar persaingan sempurna. Struktur pasar di mana pelaku pasar memiliki kekuasaan paling besar adalah monopoli (monopsoni) jika yang berkuasa adalah penjual (pembeli). Di antara kedua ekstrim tersebut, terdapat persaingan monopolistik yang memiliki sedikit kekuatan pasar dan persaingan oligopoli yang memiliki kekuatan pasar besar namun masih di bawah persaingan monopoli.

I. Persaingan Sempurna (Perfect Competition)

Kasus pasar tradisional sebelumnya adalah contoh pasar persaingan sempurna. Suatu pasar disebut berstruktur persaingan sempurna jika menampakkan ciri-ciri berikut:

  1. banyak penjual dan banyak pembeli
  2. barang homogen
  3. hambatan masuk/keluar pasar sangat kecil/tidak ada
  4. informasi sempurna

Ciri pertama dan kedua membuat tidak ada penjual dan pembeli yang mampu mempengaruhi harga dalam pasar. Terdapat banyak penjual untuk produk yang sama persis (homogen) sehingga pembeli dapat membeli di penjual manapun tanpa tambahan biaya. Demikian pula, terdapat banyak pembeli untuk satu produk sehingga penjual tidak khawatir untuk melepas pembeli yang menawar lebih rendah dari harga pasar.

Akibatnya, tidak ada satupun penjual maupun pembeli yang dapat mengendalikan harga. Penjual yang menerapkan harga di atas harga pasar tidak akan memperoleh pembeli. Sebaliknya, pembeli yang menawar di bawah harga pasar tidak dapat menemui penjual yang bersedia melepas produknya.

Hambatan masuk (keluar) pasar adalah segala keperluan yang harus dipenuhi penjual sebelum memasuki (keluar dari) pasar.  Hambatan masuk dapat berupa investasi awal, biaya tenggelam (sunk cost), lisensi, dan perijinan. Hambatan keluar mencakup biaya pesangon, peralatan produksi yang spesifik, regulasi.

Besar hambatan masuk dan keluar ini mempengaruhi jumlah penjual yang masuk dan keluar dari industri. Jumlah neto (jumlah masuk dikurangi jumlah keluar) penjual yang memasuki industri tiap waktu akan menentukan banyaknya penjual dalam suatu industri.

Suatu industri baru dapat dimulai dengan jumlah penjual yang sedikit. Namun jika hambatan masuk kecil, akan terdapat banyak penjual baru memasuki industri tiap periode. Setelah beberapa waktu, jumlah penjual di pasar akan semakin banyak sehingga mendekati struktur persaingan sempurna.

Informasi sempurna harus tersedia bagi penjual dan pembeli agar persaingan dalam pasar dapat sempurna. Informasi  ini terkait dengan produk, harga, maupun pelaku pasar. Informasi produk yang sempurna membuat pembeli dan penjual mengetahui kualitas produk yang sebenarnya sehingga dapat menyepakati harga yang sesuai dengan kualitas produk tersebut. Informasi harga di tempat dan waktu berlangsungnya transaksi membuat tidak ada penjual dan pembeli yang bertransaksi pada harga berbeda dari harga pasar. Jika ada perubahan harga yang belum diketahui penjual atau pembeli, salah satu pihak dapat mengambil untung dari ketidaktahuan pihak lainnya (counterparty) dengan menawarkan harga yang berbeda dari harga pasar.

Bersambung …

penjelasan dengan grafik

II. Monopoli

III. Oligopoli

IV. Monopolistik

V. Monopsoni

Filed under: Mikroekonomika

One Response

  1. indhie mengatakan:

    ko blum ada grafiknya??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengantar

Blog ini berisikan materi yang dibawakan oleh penulis dalam perkuliahan ekonomi syariah di Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga. Hak milik materi di tangan penulis. Materi bebas digunakan selama tidak melakukan plagiat. Pengutipan secara langsung maupun tidak langsung harap menggunakan kaidah ilmiah baku. Pertanyaan, koreksi, dan saran diharapkan agar penulis dapat terus memperbaiki materi ini.

Laman

RSS Komentar Ekonomi

  • Balapan Terjun vs Balapan Terbang
    Balapan terjun, mungkin itu yang cocok menggambarkan persaingan antar perusahaan, daerah atau negara untuk menang persaingan dengan cara bersaing membayar murah tenaga kerja dan memungut pajak serendah-rendahnya. Namun kita tahu bahwa perusahaan besar bukanlah perusahaan yang membayar tenaga kerjanya paling murah, negara maju bukanlah negara yang memungut pa […]
  • Kajian Ekonomi Murabahah Emas
    Fatwa DSN MUI no. 77 tahun 2010 tentang Murabahah Emas mengundang pertanyaan dan kajian. Untuk kajian fiqh, bisa didapatkan dari Abdul Wasik, Mas Habib dan Faishol. Sementara untuk kajian ekonomi, saya baru mendapatkannya dari Ali Sakti. Pada artikel ini, saya akan lebih banyak membahas dari sisi ekonomi yang sesuai dengan latar belakang keilmuan saya. Ali S […]
  • Ekonomika Riba Fadl
     Sumber hukum riba fadl adalah hadits Nabi Muhammad saw. berikut: “(Jual beli) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya'ir dengan sya'ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (dengan syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai.” (riwayat Musl […]
  • Agar Bank Syariah Kebal Risiko Bunga
    Apa hubungannya bank syariah dengan risiko bunga? Bukankah bank syariah tidak menerima dan membayar bunga? Memang bank syariah tidak menerima dan membayarkan bunga, tapi mereka masih harus bersaing dengan bank riba yang memungut dan membayarkan bunga. Ketika bunga bank berubah, bank syariah ikut menerima dampak di sisi pendanaan atau pembiayaan. Hal ini sebe […]
  • Subsidi BBM? No! Subsidi Pangan? Yes!
    Jika anda jadi presiden dan punya alokasi anggaran untuk orang miskin 100 trilliun, dalam bentuk program apa anggaran tersebut akan anda salurkan?A. subsidi pendidikanB. subsidi panganC. bantuan langsung tunaiD. subsidi BBME. lainnya, sebutkan ...Jika anda memilih opsi D, saya tidak akan mungkin memilih anda jika anda mencalonkan diri jadi presiden. Sudah um […]
  • Paradoks Pembiayaan Syariah Berbasis Qardh
    Mayoritas tabungan di bank syariah menggunakan akad mudharabah yang merupakan akad kemitraan dalam investasi. Sebagai investasi, tentu nasabah mengharap agar bank menyalurkan dana mereka ke berbagai jenis bisnis yang menghasilkan keuntungan, bukan untuk aktivitas sosial. Keperluan sosial dipenuhi dari alokasi dana terpisah, seperti zakat dan sadaqah. Lain ha […]
  • The Failure of Deposit Insurance and Government Bail out
    Although bank deposits are short term debt contracts, banks lend the deposit funds as long term debts. To serve regular deposit withdrawal, banks allocate some percentages of the funds in forms of cash as a reserve. In normal situation, there is no problem with this method because the withdrawn funds will soon be replaced by other customers' deposits. H […]
  • Keuangan Islam, Kembalilah ke Jati Dirimu!
    Hingga saat ini, sebagian besar kreasi produk keuangan Islam di Indonesia diinisiasi oleh pelaku industri keuangan Islam. Terang saja, motif pelaku ini adalah memenangkan persaingan antara mereka dengan keuangan konvensional. Persaingan antara pelaku industri keuangan terjadi pada aspek harga dan diversifikasi layanan. Permintaan fatwa produk keuangan baru d […]
  • Roubini: The Gold Bubble and the Gold Bugs
    Profesor ekonomi dari New York University pun bicara tentang bubble emas.The Gold Bubble and the Gold BugsNEW YORK – Gold prices have been rising sharply, breaching the $1,000 barrier and in recent weeks rising towards $1,200 an ounce and above. Today’s “gold bugs” argue that the price could top $2,000. But the recent price surge looks suspiciously like a bu […]
  • Harga Emas Naik, Siapa Untung?
    Orang yang punya emas? Dia hanya untung jika menjual emasnya. Akan tetapi pada saat yang sama, dia kehilangan peluang untung dari kenaikan harga berikutnya. Tapi jika dia tidak menjual emasnya, apa gunanya kenaikan harga emas baginya?Apakah orang yang beli emas saat harga naik? Tentu saja bukan, tidak ada orang yang dikatakan untung ketika membeli di saat ha […]
%d blogger menyukai ini: