Belajar Ilmu Ekonomi

Ikon

Memahami Untuk Memperbaiki

Teori (Baru) Uang, Bunga dan Bagi Hasil

Kerancuan Teori Konvensional Uang

Pendapat ekonom klasik dan neoklasik tentang uang diwakili oleh teori kuantitas uang. Teori ini membangun hubungan antara uang dan kecepatan peredarannya dengan tingkat harga dan output di perekonomian.

Keynes, berseberangan dengan ekonom Klasik, berpendapat bahwa uang dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran sebagaimana komoditas lainnya. Tingkat bunga menjadi harga yang menyeimbangkan permintaan dan penawaran uang ini. Menurut Keynes, bunga bukanlah faktor penyeimbang permintaan dan penawaran barang modal, sebagaimana diyakini oleh Klasik.

Keynes mendefinisikan permintaan uang sebagai jumlah uang yang ingin dipegang oleh masyarakat. Individu mengalokasikan kekayaannya dalam berbagai bentuk aset. Aset yang berupa barang modal memberikan manfaat berupa imbal di masa mendatang. Sementara uang memberikan manfaat likuiditas, yakni kemudahannya untuk dipertukarkan dengan barang lain.

Definisi permintaan uang ini rancu jika dibandingkan dengan definisi permintaan komoditas lainnya. Kita selama ini mendefinisikan permintaan suatu komoditas sebagai jumlah komoditas yang ingin dibeli oleh masyarakat pada tingkat harga yang berlaku, bukan volume stok komoditas yang ingin kita miliki. Permintaan komoditas merupakan konsep aliran, bukan konsep stok. Anehnya, permintaan uang selama ini didefinisikan dengan konsep stok.

Kejanggalan lain terdapat pada penetapan bunga sebagai satu-satunya harga uang. Suku bunga dijadikan sebagai harga uang karena kebingungan dengan harga komoditas. Harga komoditas dalam perekonomian yang menggunakan uang senantiasa diwujudkan dalam satuan uang. Karena tidak mungkin menerapkan satuan uang untuk mengukur harga uang, ekonom mendapatkan bunga sebagai harga.

Kebingungan ini tidak terjadi jika kita menyadari bahwa uang hanyalah sebuah komoditas yang umum dijadikan sebagai alat pertukaran. Pada dasarnya, apa yang disebut sebagai harga dari suatu komoditas adalah jumlah komoditas lain yang harus dipertukarkan untuk mendapatkan satu unit komoditas pertama. Harga komoditas dalam satuan uang mencerminkan berapa jumlah uang yang harus ditukarkan untuk mendapatkan satu unit komoditas.

Dengan definisi harga seperti ini, bunga tidak tepat dikenakan sebagai harga uang. Harga uang seharusnya adalah jumlah komoditas yang harus ditukarkan untuk mendapatkan satu unit uang. Definisi harga uang seperti ini terkesan tidak lazim karena kita lebih terbiasa dengan ungkapan membeli komoditas dengan uang, bukan membeli uang dengan komoditas.

Dalam kehidupan keseharian, wujud dari harga uang ini bisa ditemui pada pertukaran mata uang antar negara. Nilai tukar suatu mata uang diwujudkan dalam berapa jumlah mata uang lain yang harus ditukarkan untuk mendapatkan satu unit mata uang pertama. Satuan harga dari suatu mata uang bergantung pada mata uang apa yang ingin ditukarkan dengannya.

Apapun yang dapat ditukarkan dengan uang, maka sesuatu itu dapat menjadi satuan harga uang. Kita biasa mengenal konsep ini sebagai nilai riil uang, yang didefinisikan sebagai jumlah barang yang dapat dibeli dengan uang tersebut. Sebenarnya, nilai riil uang ini secara persis mewakili harga uang.

Bunga bukanlah sesuatu yang dikorbankan untuk mendapatkan kepemilikan uang dan bukan pula sesuatu yang diperoleh dari melepaskan kepemilikan uang. Bunga diperoleh dengan meminjamkan uang, bukan menjualnya. Kepemilikan uang tidak berpindah dengan jalan meminjamkannya. Peminjaman merupakan pemberian izin kepada orang lain untuk menggunakan sesuatu yang kita miliki. Bunga lebih mirip dengan biaya sewa daripada dengan harga jual. Bunga merupakan biaya sewa yang dipungut dari uang yang dipinjamkan atau disewakan.

Lalu apa yang disebut dengan penawaran uang? Penawaran uang tidak hanya dipengaruhi oleh uang yang diproduksi, yakni diterbitkan, oleh negara. Uang, sebagaimana barang tahan lama lainnya, ditawarkan di pasar tidak hanya oleh produsen, tetapi juga oleh pemilik lama yang ingin menjualnya. Namun berbeda dengan barang tahan lama lainnya, pasar uang lama dengan uang baru tidak terpisah karena uang tidak mengalami depresiasi nilai karena usia atau kondisi fisiknya. Nilai tukar sejumlah uang lama sama dengan nilai tukar uang baru pada jumlah yang sama.

Uang lama tidak mengalami depresiasi nilai karena nilai manfaatnya sama dengan uang baru. Manfaat uang sebagai alat tukar dan penyimpan nilai tidak dipengaruhi usia dan kondisi fisiknya. Barang tahan lama lain akan berubah kemanfaatannya ketika usia bertambah dan kondisi fisiknya berubah. Barang koleksi justru bertambah kemanfaatannya ketika usia bertambah.

Teori ekonomi selama ini menganggap penawaran uang hanya berasal dari penerbitnya. Negara, biasanya diwakili oleh bank sentral,  dianggap sebagai satu-satunya pemasok uang karena ia memonopoli penerbitan uang. Jika uang giral diperhitungkan, maka bank-bank komersial juga dapat dianggap sebagai produsen uang.

Dalam teori konvensional ini, penawaran uang merupakan konsep stok. Keseimbangan antara permintaan dan penawaran uang dalam teori konvensional bisa terjadi karena keduanya menggunakan konsep stok.

Di luar kerancuan definisi permintaan dan penawaran uang yang tidak ekuivalen dengan permintaan dan penawaran komoditas lainnya, teori stok uang ini mampu menjelaskan volume stok uang. Namun terdapat cacat ketika interaksi permintaan dan penawaran stok uang ini dijelaskan dengan bunga sebagai faktor penyeimbang.

Teori konvensional menjelaskan bahwa permintaan akan stok uang dipengaruhi oleh bunga, pendapatan, dan kecenderungan untuk memegang uang. Permintaan stok uang berkurang dengan kenaikan bunga dan bertambah dengan kenaikan pendapatan. Bunga merupakan biaya dari memiliki uang, sehingga kenaikannya akan mengurangi stok uang yang memberikan kepuasan optimal. Sementara, kenaikan pendapatan berkonsekuensi pada kenaikan konsumsi sehingga jumlah uang yang diperlukan untuk bertransaksi meningkat.

Kerancuan teori konvensional terdapat pada saat menjelaskan proses penyeimbangan antara permintaan dan penawaran stok uang. Karena stok uang yang dimiliki masyarakat dibatasi oleh stok uang yang dipasok oleh negara, maka teori konvensional menganggap bahwa tingkat bunga akan menyesuaikan hingga stok uang diminta berada pada tingkat yang sama dengan stok uang yang dipasok.

Konsep bunga sebagai biaya memegang uang baru menjelaskan pengaruh bunga terhadap stok uang diminta, bukan sebaliknya. Sementara, proses penyesuaian bunga ketika terjadi ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran membutuhkan arah kausalitas sebaliknya. Ketika terjadi ketidakseimbangan di pasar stok uang, maka harus ada mekanisme yang menjelaskan mengapa bunga dapat berubah.

Mekanisme ini dijelaskan oleh teori konvensional melalui aset lain yang memberikan bunga. Menurut Keynes, permintaan dan penawaran aset berbunga ini berkebalikan dengan permintaan dan penawaran stok uang karena individu harus merelakan uangnya ketika ingin mendapatkan aset berbunga. Permintaan aset berbunga merupakan penawaran uang, sebaliknya penawaran aset berbunga merupakan permintaan uang.

Harga aset berbunga berbanding terbalik dengan bunga yang diberikannya. Jika harga aset tersebut naik, maka bunga yang diberikannya semakin rendah. Pemahaman ini diperoleh dari obligasi yang harga pasarnya bisa berbeda dengan harga tercetaknya. Bunga diberikan menurut harga tercetak, sehingga tingkat bunga aktual dapat berbeda dengan tingkat bunga yang tercetak. Jika harga obligasi naik, sementara nominal bunga yang diterima tetap, maka tingkat bunga aktual akan turun.

Karena itu, jika permintaan stok uang melebihi stok uang yang dipasok, masyarakat akan sulit mendapatkan uang. Jika masyarakat memerlukan uang lebih banyak untuk bertransaksi, ia menjual aset berbunga yang dimiliknya. Sebaliknya, jika masyarakat merasa stok uangnya melebihi keperluan transaksi, mereka akan mengkonversinya ke aset berbunga.

Ketika terjadi kenaikan permintaan stok uang, berarti ada kenaikan penawaran aset berbunga, maka harga aset berbunga turun dan bunganya naik. Sebaliknya jika permintaan stok uang turun, maka terjadi kenaikan permintaan aset berbunga, menyebabkan harganya naik dan suku bunga turun.

Kerancuan teori di atas terletak pada pengkaitan uang dalam konsep stok dengan aset berbunga dalam konsep arus.  Proses pembentukan harga aset berbunga terjadi pada interaksi arus permintaan dan penawarannya. Penawaran obligasi tidak hanya terdiri dari obligasi baru yang diterbitkan, tapi juga obligasi lama yang belum jatuh tempo yang dijual oleh pemilik lamanya. Permintaan obligasi juga bukan stok obligasi yang ingin dimiliki, tetapi jumlah obligasi yang ingin dibeli untuk menambah stok obligasi yang telah dimilikinya.

Ketika dikaitkan dengan permintaan dan penawaran obligasi yang merupakan konsep arus, permintaan dan penawaran uang ikut menjadi konsep arus. Kini permintaan uang menjadi jumlah uang yang ingin didapatkan untuk menambah stok uang yang telah dimiliki. Penawaran uang pun seharusnya juga merupakan jumlah terbesar tambahan uang yang bisa didapatkan oleh orang yang memintanya. Penawaran ini terdiri dari uang yang baru diterbitkan ditambah dengan uang lama yang dilepas oleh pemiliknya.

Dalam kasus perdagangan obligasi, ketika seseorang menjual obligasi untuk meminta uang, maka harus ada orang lain yang menawarkan uang untuk membeli obligasi. Pada saat-saat tertentu, terdapat obligasi baru dan uang baru yang diterbitkan menambah penawaran dan stok dari obligasi dan uang.

Bunga mempengaruhi permintaan dan penawaran terhadap utang berbunga. Bunga memberikan konsumsi lebih tinggi di masa mendatang, sehingga orang mau mengorbankan penggunaan sendiri uang itu sekarang untuk ia utangkan. Kenaikan bunga meningkatkan biaya kesempatan konsumsi di masa depan sehingga meningkatkan penawaran pinjaman. Dalam obligasi, permintaan terhadap obligasi merupakan penawaran pinjaman.

Mekanisme penyeimbangan permintaan dan penawaran pinjaman juga dibentuk oleh ekspektasi terhadap bunga. Ketika bunga terlalu tinggi atau harga obligasi terlalu rendah, masyarakat akan mengharapkan penurunan bunga atau kenaikan harga obligasi di masa mendatang. Karenanya, permintaan obligasi atau penawaran uang  meningkat sehingga harga obligasi naik dan bunga turun.

Inkonsistensi juga terlihat dari harga obligasi yang menggunakan satuan uang, sementara uang sendiri menggunakan bunga sebagai harga.

Kita harus memisahkan hubungan bunga dengan uang ketika uang dalam konsep arus dan stok. Dalam konsep uang sebagai stok, bunga memiliki hubungan negatif terhadap permintaan, tetapi netral terhadap penawaran. Dalam konsep uang sebagai arus, bunga juga berhubungan negatif  terhadap  permintaan, namun positif terhadap penawaran.

Karena bunga pada obligasi tidak lain adalah biaya sewa atas pinjaman uang, maka pasar obligasi pada dasarnya adalah pasar penyewaan uang.

Kerancuan teori stok uang ini nampak ketika terjadi perubahan pendapatan. Misal pendapatan masyarakat naik, menurut teori konvensional permintaan uang akan naik pada tiap tingkat bunga. Jika sebelum kenaikan pendapatan permintaan dan penawaran uang telah berada di titik keseimbangan, setelah kenaikan pendapatan permintaan uang akan melebihi penawarannya jika bunga masih berada di tingkat keseimbangan awal. Menurut teori konvensional, bunga akan meningkat hingga dapat menyeimbangkan permintaan dan penawaran uang.

Namun mekanisme apa yang melatari kenaikan bunga tersebut? Jika pendapatan masyarakat naik, mereka tidak perlu menjual aset nonuang untuk mendapatkan lebih banyak uang untuk bertransaksi. Bahkan sebaliknya, masyarakat dapat membeli aset berbunga lebih banyak. Jika tidak ada penjualan aset berbunga, ceteris paribus harga aset berbunga tersebut tidak akan turun , dan bunga tidak akan naik. Di sinilah kelemahan teori stok uang nampak dengan jelas.

Selanjutnya saya akan memaparkan teori alternatif tentang permintaan dan penawaran uang yang lebih sesuai dengan teori permintaan dan penawaran komoditas lainnya, yakni dengan mendefinisikan keduanya dalam konsep uang sebagai arus, bukan stok.

Flow Theory of Money

Dalam teori arus uang, konsep pasar uang mirip dengan konsep pasar komoditas lain, terutama komoditas tahan lama. Karena semua komoditas di pasar masing-masing ditukarkan dengan uang, pasar uang meliputi seluruh pasar komoditas. Permintaan dan penawaran uang merupakan kebalikan dari permintaan dan penawaran komoditas. Permintaan suatu komoditas sekaligus merupakan penawaran uang untuk ditukarkan dengan komoditas tersebut. Penawaran suatu komoditas sekaligus merupakan permintaan uang untuk ditukarkan dengan komoditas tersebut.

Luasnya jenis komoditas yang ditukarkan dengan uang membuat analisis permintaan dan penawaran uang menjadi kompleks. Harga atau nilai tukar uang dapat diwujudkan dalam berbagai jenis komoditas yang dapat ditukarkan dengannya. Harga uang dalam suatu perekonomian tidak pernah bisa diwakili oleh satu jenis komoditas saja.

Untuk menentukan harga uang dalam suatu perekonomian, kita perlu menggabungkan seluruh komoditas seakan menjadi satu jenis produk. Konsep pendapatan agregat yang dihitung dari produk domestik bruto cukup tepat untuk keperluan analisis uang ini. Nilai tukar uang di perekonomian ditentukan oleh interaksi permintaan dan penawaran uang untuk ditukarkan dengan berbagai komoditas dalam perekonomian.

Penawaran uang bukanlah jumlah stok uang dalam perekonomian. Penawaran uang juga bukan jumlah uang baru yang diterbitkan karena uang bukan barang konsumsi tidak tahan lama yang langsung habis setelah dibeli dan dikonsumsi sehingga tidak akan dijual kembali. Penawaran uang adalah jumlah uang yang ditawarkan oleh masyarakat untuk ditukarkan dengan berbagai komoditas dalam perekonomian. Dalam pengertian lain, penawaran uang merupakan permintaan berbagai komoditas dalam perekonomian.

Permintaan uang juga bukan stok uang yang ingin dimiliki oleh masyarakat. Permintaan uang adalah jumlah uang yang ingin “dibeli” masyarakat dengan menukarkan berbagai komoditas milik mereka. Dalam pengertian lain, permintaan uang merupakan penawaran berbagai komoditas dalam perekonomian.

Pasar uang seakan-akan sebuah bayangan cermin dari pasar barang. Hanya saja, jika harga barang diwujudkan dengan jumlah unit uang yang harus ditukarkan untuk mendapat satu unit barang, sementara harga uang diwujudkan dengan jumlah unit komoditas yang harus ditukarkan untuk mendapat satu unit uang.

Hukum-hukum permintaan dan penawaran komoditas berlaku pula pada uang. Jika harga atau nilai tukar uang turun, permintaan uang akan meningkat jika  dan penawaran  uang akan menurun. Turunnya harga uang berarti jumlah komoditas yang diperlukan untuk mendapatkan satu unit uang lebih sedikit dari sebelumnya. Di sisi pasar barang, turunnya harga uang berarti jumlah uang yang sama hanya bisa membeli lebih sedikit barang. Pengertian yang lebih umum dari penurunan harga uang adalah kenaikan harga barang. Istilah ekonomi terhadap penurunan harga uang ini adalah inflasi. Sebaliknya kenaikan harga uang merupakan cerminan dari penurunan harga barang di perekonomian, atau biasa dikenal sebagai deflasi.

Lalu bagaimana hubungan permintaan dan penawaran uang dengan bunga? Definisi permintaan dan penawaran uang dalam konsep pertukaran berkonsekuensi bahwa uang tersebut merupakan uang yang digunakan untuk transaksi jual-beli. Sementara bunga merupakan harga pada uang yang disewakan. Penyewaan uang mencegah penggunaan uang untuk transaksi jual-beli. Karenanya, penawaran uang untuk ditukarkan dengan barang dipengaruhi secara berlawanan oleh penawaran uang yang disewakan. Karena bunga berhubungan positif dengan penawaran uang yang disewakan, maka bunga berhubungan negatif dengan penawaran uang dalam pasar pertukaran.

Selain ditukarkan dan disewakan, orang juga menyimpan uang untuk menggunakannya di masa depan. Dalam istilah Keynes, motif memiliki uang ini merupakan motif berjaga-jaga (precautionary motive). Keynes memisahkan motif berjaga-jaga ini dari motif spekulasi. Menurut Keynes, motif berjaga-jaga dari memiliki uang ditujukan untuk tujuan konsumtif di masa depan, sedangkan motif spekulasi ditujukan untuk tujuan memperoleh keuntungan di masa depan. Keduanya berkonsekuensi sama pada pemilik uang, bahwa pemilik uang akan menahan uangnya dari penggunaan sekarang baik untuk dibelanjakan maupun untuk disewakan. Keynes tidak membedakan penggunaan uang untuk jual-beli dan untuk sewa dan mengelompokkan keduanya menjadi motif transaksi.

Perbedaan saya dengan Keynes adalah saya mengelompokkan penggunaan uang untuk pertukaran, penyewaan, dan berjaga-jaga baik terkait konsumtif maupun spekulatif. Penggunaan uang untuk satu motif akan mengurangi jumlah uang yang digunakan untuk motif lain. Ketiganya merupakan substitusi  sebagaimana substitusi penggunaan satu faktor produksi untuk memproduksi berbagai jenis komoditas. Substitusi silang ketiganya terjadi di antara penawaran uang di ketiga jenis penggunaan.

Substitusi silang terebut menciptakan elastisitas silang negatif penawaran uang di satu penggunaan terhadap perubahan harga pada penggunaan lain. Kenaikan bunga sebagai harga sewa uang meningkatkan penawaran uang yang disewakan atau –agar mempermudah pembedaan dengan penawaran uang pada pertukaran dengan komoditas— kita sebut penawaran pinjaman. Akibatnya, penawaran uang dalam pertukaran berkurang pada berbagai tingkat harga uang. Jika digambarkan dalam panel uang dan harganya, akibat dari kenaikan bunga pinjaman adalah kurva penawaran uang bergeser ke kiri.

Dampak selanjutnya pada harga uang keseimbangan sebelumnya terjadi kekurangan penawaran uang, atau ekuivalen dengan itu terjadi kekurangan permintaan barang. Para pembeli uang, atau para penawar barang, yang tidak dapat menemukan mitra pertukaran pada harga yang berlaku mulai bersedia menukarkan komoditas lebih banyak untuk mendapatkan uang, atau harga barang turun. Harga uang terus meningkat untuk mendatangkan lebih banyak  penawaran uang hingga mencapai keseimbangan dengan  permintaan uang.

Sebaliknya, kenaikan harga uang meningkatkan penawaran uang dan mengurangi penawaran pinjaman pada berbagai tingkat bunga. Jika digambarkan dalam panel pinjaman-bunga, kenaikan harga uang menyebabkan kurva penawaran pinjaman bergeser ke kiri. Kelebihan permintaan pinjaman akan membuat para calon peminjam mau membayar bunga lebih tinggi. Kenaikan bunga terus berlangsung hingga permintaan dan penawaran pinjaman mencapai keseimbangan.

Penjelasan di atas secara implisit mengasumsikan bahwa penggunaan uang untuk berjaga-jaga relatif tetap. Fakta sebenarnya, penggunaan uang untuk berjaga-jaga dipengaruhi oleh ekspektasi terhadap harga uang dan bunga di masa depan. Sebagaimana terjadi di pasar barang, ekspektasi akan kenaikan harga uang (deflasi) di masa depan akan mendorong orang menyimpan uang dan mengurangi penawaran uang. Sebaliknya, ekspektasi akan penurunan harga uang (inflasi) mendorong orang untuk mengurangi simpanan uang dengan menjualnya.

Ekspektasi terhadap perubahan tingkat bunga di masa depan juga mempengaruhi jumlah uang yang disimpan. Ekspektasi penurunan tingkat bunga di masa depan ekuivalen dengan ekspektasi terhadap kenaikan harga aset berbunga. Untuk mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga tersebut, masyarakat meningkatkan permintaannya terhadap aset berbunga di masa kini dan untuk itu ia harus mengurangi jumlah uang yang disimpan. Sebaliknya, ekspektasi kenaikan suku bunga di masa depan mendorong orang menambah simpanan uangnya dan mengurangi uang yang dipinjamkan. Proses ini berlaku pada pinjaman dengan bunga tetap. Jika bunga pinjaman dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti tingkat pasar bunga, maka penawaran pinjaman sekarang tidak dipengaruhi oleh ekspektasi perubahan tingkat bunga di masa depan.

Apakah terjadi elastisitas silang penawaran uang terhadap ekspektasi bunga pinjaman di masa depan dan elastisitas silang penawaran pinjaman terhadap ekspektasi harga uang di masa depan? Elastisitas silang ini terjadi secara terbatas. Ekspektasi deflasi di masa depan mengurangi penawaran uang sekarang dan dapat dialokasikan sebagai simpanan maupun pinjaman jangka pendek sehingga dapat diuangkan kembali ketika dibutuhkan untuk pertukaran. Pengurangan uang yang dipinjamkan ketika terdapat ekspektasi kenaikan bunga di masa depan dapat dialokasikan sebagai simpanan atau ditukarkan dengan barang tahan lama yang dapat diuangkan kembali untuk dipinjamkan ketika bunga telah naik. Keputusan pengalokasian ke simpanan atau penggunaan lainnya bergantung pada preferensi terhadap trade-off manfaat antara likuiditas uang jika disimpan dan pendapatan bunga jika dipinjamkan atau kegunaan konsumtif jika ditukarkan dengan barang.

Namun perubahan sekarang harga uang dan bunga tidak mempengaruhi jumlah simpanan selama tidak ada ekspektasi perubahan harga dan bunga di masa mendatang. Perubahan harga sekarang dapat menimbulkan ekspektasi perubahan harga di masa depan pada arah yang sama atau berlawanan, bergantung pada persepsi apakah perubahan harga sekarang merupakan gerak menuju atau menjauhi keseimbangan.

Interaksi antara Uang, Bunga, dan Keuntungan, serta Pengaruhnya terhadap Konsumsi dan Investasi

Proses pengambilan keputusan alokasi uang untuk konsumsi, investasi, dan pinjaman.

Dalam teori Keynes, konsumsi semata dipengaruhi oleh pendapatan sementara investasi dipengaruhi oleh bunga. Dalam kenyataan, konsumsi juga dipengaruhi oleh bunga. Konsumsi seseorang yang melebihi pendapatannya dapat dibiayai dengan pinjaman. Keputusan konsumsi yang dibiayai pinjaman ini dipengaruhi oleh tingkat bunga.

Penawaran pinjaman untuk konsumsi dan investasi berasal dari satu kelompok, namun permintaannya berasal dari kelompok yang berbeda. Dengan mengasumsikan kesamaan profil risiko di antara dua jenis penggunaan pinjaman, bunga pada kedua jenis pinjaman berada pada tingkat sama yang terbentuk dari interaksi permintaan total keduanya dengan penawaran pinjaman.

image

Salah satu kekurangan mendasar teori konvensional adalah menganggap bahwa harga faktor produksi modal adalah bunga. Asumsi ini tepat jika pembelian barang modal dibiayai dengan pinjaman. Akan tetapi, pembelian barang modal dapat pula dibiayai dengan uang investor yang mengharapkan bagian dari nilai tambah hasil produksi.

Karenanya, teori investasi yang didasarkan pada pembagian keuntungan perlu dibangun untuk menambal lubang teori konvensional ini. Saya mengikuti teori ekonomi Islam untuk memberikan penjelasan terhadap proses penyeimbangan antara permintaan dan penawaran dana investasi berdasarkan pembagian keuntungan. Negosiasi antara permintaan dan penawaran dana investasi ini berkaitan dengan rasio keuntungan yang diberikan terhadap pemilik dana. Pada ekspektasi keuntungan yang given, peningkatan rasio keuntungan untuk pemilik dana meningkatkan penawaran dana namun menurunkan permintaan dana. Rasio keuntungan akan menuju pada titik yang menyeimbangkan permintaan dan penawaran dana.

image

Kenaikan bunga membuat pemilik uang mengalihkan sebagian dana penyertaan untuk dipinjamkan sehingga mengurangi penawaran dana penyertaan pada berbagai rasio bagi hasil. Sebaliknya, kenaikan bunga akan mengurangi permintaan pinjaman investasi karena pengusaha beralih mencari pembiayaan investasi dari dana penyertaan. Pengurangan penawaran dan peningkatan permintaan pada rasio bagi hasil keseimbangan sebelumnya akan mengakibatkan kelebihan permintaan dana penyertaan. Untuk menarik pemilik dana, pengusaha bersedia meningkatkan bagian keuntungan pemilik dana. Bagian keuntungan pemilik dana akan terus mengalami kenaikan hingga tercapai keseimbangan antara permintaan dan penawaran dana.

Rasio bagi hasil keseimbangan juga menyamakan tingkat imbal penyertaan dana yang ekuivalen dengan tingkat bunga keseimbangan karena permintaan dan penawaran dana akan mengalami perubahan jika masih terdapat selisih antara tingkat bunga dengan tingkat imbal harapan yang diperoleh dari dana penyertaan. Tingkat imbal harapan diperoleh dengan mengalikan tingkat keuntungan harapan dengan rasio bagi hasil untuk pemilik dana.

Kenaikan tingkat keuntungan harapan membuat pengusaha perlu meningkatkan jumlah output dan kapasitas untuk mengoptimalkan laba, sehingga ia meminta dana penyertaan dan pinjaman lebih besar. Akan tetapi, kenaikan tingkat keuntungan harapan ini memberi dampak berbeda pada penawaran dana penyertaan dan pinjaman.

Kenaikan tingkat keuntungan harapan menaikkan tingkat imbal harapan bagi pemilik dana pada rasio bagi hasil yang given.  Sementara, pemberi pinjaman memperoleh tingkat imbal tetap pada bunga pinjaman yang given. Karenanya, pemilik dana akan mengalihkan uangnya dari pinjaman ke dana penyertaan sehingga penawaran dana penyertaan meningkat, sementara penawaran pinjaman menurun.

Dampak yang diprediksi dari kenaikan tingkat keuntungan harapan adalah kenaikan bunga pinjaman karena terjadi penurunan penawaran pinjaman dan kenaikan permintaan pinjaman. Sementara, dampak kenaikan tingkat keuntungan harapan pada pasar dana penyertaan sulit diprediksi karena bergantung pada kenaikan mana yang lebih besar antara permintaan dan penawaran dana.

Kenaikan tingkat keuntungan harapan menurunkan konsumsi yang dibiayai dengan pinjaman maupun uang yang dimiliki. Kenaikan bunga pinjaman menurunkan konsumsi yang dibiayai oleh pinjaman. Selain itu, tingkat keuntungan harapan meningkatkan biaya kesempatan penggunaan uang untuk konsumsi.

Preferensi risiko dan nilai seseorang mempengaruhi keputusan alokasi uangnya untuk ditawarkan sebagai dana penyertaan atau pinjaman. Perubahan komposisi preferensi dalam masyarakat dapat pula menggeser penawaran dana penyertaan dan pinjaman. Pada akhirnya, perubahan preferensi ini berdampak pula pada konsumsi.

Pergeseran preferensi pemilik dana ke dana penyertaan memiliki beberapa dampak sama dengan kenaikan tingkat keuntungan harapan: penawaran dana penyertaan meningkat, penawaran pinjaman turun, bunga meningkat, dan konsumsi menurun. Jika pergeseran preferensi ke dana penyertaan terjadi pada pengusaha, maka permintaan dana penyertaan meningkat sementara permintaan pinjaman investasi turun. Akibatnya, rasio bagi hasil untuk pemilik dana meningkat dan bunga menurun. Tingkat imbal dari dana penyertaan bisa berada pada tingkat berbeda dari tingkat bunga jika preferensi mempengaruhi permintaan dan atau penawaran pinjaman dan dana penyertaan. Dampaknya terhadap konsumsi ambigu karena konsumsi yang dibayar kontan menurun, tetapi konsumsi yang dibiayai pinjaman meningkat.

Permintaan dan penawaran barang modal dan konsumsi

Keuntungan investasi dipengaruhi oleh biaya produksi yang tersusun dari biaya input, biaya tenaga kerja, dan biaya alat produksi atau barang modal.  Perubahan harga barang modal mempengaruhi keuntungan dan selanjutnya mempengaruhi investasi.

Permintaan barang modal dan konsumsi merupakan turunan dari penggunaan uang untuk investasi dan konsumsi baik melalui pinjaman maupun pembelian kontan. Dana penyertaan merupakan pembelian kontan barang investasi. Demikian pula, penawaran barang modal dan konsumsi merupakan substitusi penggunaan sumber daya ekonomi.

Teori konvensional mengenai permintaan dan penawaran faktor produksi mengalami kelemahan sama dengan teorinya tentang permintaan dan penawaran uang. Teori konvensional menjelaskan permintaan dan penawaran faktor produksi dalam konsep stok, bukan arus.

Filed under: Moneter

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengantar

Blog ini berisikan materi yang dibawakan oleh penulis dalam perkuliahan ekonomi syariah di Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga. Hak milik materi di tangan penulis. Materi bebas digunakan selama tidak melakukan plagiat. Pengutipan secara langsung maupun tidak langsung harap menggunakan kaidah ilmiah baku. Pertanyaan, koreksi, dan saran diharapkan agar penulis dapat terus memperbaiki materi ini.

Halaman

RSS Komentar Ekonomi

  • Balapan Terjun vs Balapan Terbang
    Balapan terjun, mungkin itu yang cocok menggambarkan persaingan antar perusahaan, daerah atau negara untuk menang persaingan dengan cara bersaing membayar murah tenaga kerja dan memungut pajak serendah-rendahnya. Namun kita tahu bahwa perusahaan besar bukanlah perusahaan yang membayar tenaga kerjanya paling murah, negara maju bukanlah negara yang memungut pa […]
  • Kajian Ekonomi Murabahah Emas
    Fatwa DSN MUI no. 77 tahun 2010 tentang Murabahah Emas mengundang pertanyaan dan kajian. Untuk kajian fiqh, bisa didapatkan dari Abdul Wasik, Mas Habib dan Faishol. Sementara untuk kajian ekonomi, saya baru mendapatkannya dari Ali Sakti. Pada artikel ini, saya akan lebih banyak membahas dari sisi ekonomi yang sesuai dengan latar belakang keilmuan saya. Ali S […]
  • Ekonomika Riba Fadl
     Sumber hukum riba fadl adalah hadits Nabi Muhammad saw. berikut: “(Jual beli) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya'ir dengan sya'ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (dengan syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai.” (riwayat Musl […]
  • Agar Bank Syariah Kebal Risiko Bunga
    Apa hubungannya bank syariah dengan risiko bunga? Bukankah bank syariah tidak menerima dan membayar bunga? Memang bank syariah tidak menerima dan membayarkan bunga, tapi mereka masih harus bersaing dengan bank riba yang memungut dan membayarkan bunga. Ketika bunga bank berubah, bank syariah ikut menerima dampak di sisi pendanaan atau pembiayaan. Hal ini sebe […]
  • Subsidi BBM? No! Subsidi Pangan? Yes!
    Jika anda jadi presiden dan punya alokasi anggaran untuk orang miskin 100 trilliun, dalam bentuk program apa anggaran tersebut akan anda salurkan?A. subsidi pendidikanB. subsidi panganC. bantuan langsung tunaiD. subsidi BBME. lainnya, sebutkan ...Jika anda memilih opsi D, saya tidak akan mungkin memilih anda jika anda mencalonkan diri jadi presiden. Sudah um […]
  • Paradoks Pembiayaan Syariah Berbasis Qardh
    Mayoritas tabungan di bank syariah menggunakan akad mudharabah yang merupakan akad kemitraan dalam investasi. Sebagai investasi, tentu nasabah mengharap agar bank menyalurkan dana mereka ke berbagai jenis bisnis yang menghasilkan keuntungan, bukan untuk aktivitas sosial. Keperluan sosial dipenuhi dari alokasi dana terpisah, seperti zakat dan sadaqah. Lain ha […]
  • The Failure of Deposit Insurance and Government Bail out
    Although bank deposits are short term debt contracts, banks lend the deposit funds as long term debts. To serve regular deposit withdrawal, banks allocate some percentages of the funds in forms of cash as a reserve. In normal situation, there is no problem with this method because the withdrawn funds will soon be replaced by other customers' deposits. H […]
  • Keuangan Islam, Kembalilah ke Jati Dirimu!
    Hingga saat ini, sebagian besar kreasi produk keuangan Islam di Indonesia diinisiasi oleh pelaku industri keuangan Islam. Terang saja, motif pelaku ini adalah memenangkan persaingan antara mereka dengan keuangan konvensional. Persaingan antara pelaku industri keuangan terjadi pada aspek harga dan diversifikasi layanan. Permintaan fatwa produk keuangan baru d […]
  • Roubini: The Gold Bubble and the Gold Bugs
    Profesor ekonomi dari New York University pun bicara tentang bubble emas.The Gold Bubble and the Gold BugsNEW YORK – Gold prices have been rising sharply, breaching the $1,000 barrier and in recent weeks rising towards $1,200 an ounce and above. Today’s “gold bugs” argue that the price could top $2,000. But the recent price surge looks suspiciously like a bu […]
  • Harga Emas Naik, Siapa Untung?
    Orang yang punya emas? Dia hanya untung jika menjual emasnya. Akan tetapi pada saat yang sama, dia kehilangan peluang untung dari kenaikan harga berikutnya. Tapi jika dia tidak menjual emasnya, apa gunanya kenaikan harga emas baginya?Apakah orang yang beli emas saat harga naik? Tentu saja bukan, tidak ada orang yang dikatakan untung ketika membeli di saat ha […]
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: